Home > Cerbung > Sabuk Hitam yang Tersembunyi (Episode 2: Ujian Kesabaran)

Sabuk Hitam yang Tersembunyi (Episode 2: Ujian Kesabaran)

Sabuk Hitam yang Tersembunyi

Hari-hari pertama Ramadan di sekolah berlalu tanpa banyak masalah. Ia mulai terbiasa dengan rutinitas baru, metode pengajaran yang berbeda, dan teman-teman sekelas yang sebagian besar ramah. Fajar selalu ada untuk membantunya beradaptasi, mengenalkannya kepada lebih banyak teman, dan mengajaknya bergabung dalam berbagai kegiatan.

Namun, bayangan senior-senior yang tidak bersahabat itu terus menghantui Ramadan. Setiap kali ia melihat mereka di koridor, perasaan tidak nyaman muncul dalam dirinya. Ramadan berusaha menghindari konfrontasi sebisa mungkin, tetapi ia tahu bahwa suatu saat, ia tidak akan bisa menghindar selamanya.

Suatu hari, saat jam istirahat kedua, Ramadan memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Ia merasa tempat itu akan memberinya ketenangan dan kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang pelajaran yang sedang ia kejar. Namun, di tengah perjalanan menuju perpustakaan, ia melihat sekelompok senior yang tampak sedang mengganggu seorang siswa kelas 10 lainnya.

Ramadan mengenali siswa itu sebagai Andi, teman sekelasnya yang pendiam dan sering menjadi target ejekan. Andi tampak ketakutan dan terpojok di sudut koridor. Salah satu senior, yang dikenal sebagai Doni, menekan bahu Andi dengan kasar. “Hei, anak baru. Mana PR-ku? Kamu janji mau bikinin, kan?” kata Doni dengan nada mengejek.

Baca juga:  Sabuk Hitam yang Tersembunyi (Episode 1: Hari Pertama di Sekolah Baru)

Ramadan merasakan dorongan kuat untuk campur tangan, tetapi ia menahan diri. Ia tahu bahwa menunjukkan kemampuan bela dirinya di depan umum bisa membuat situasi semakin rumit. Dengan langkah hati-hati, Ramadan mendekati situasi itu, berusaha mencari cara untuk membantu Andi tanpa harus memancing keributan.

“Hai, Andi. Bukannya kita ada tugas kelompok di perpustakaan sekarang?” Ramadan bersuara lantang, mencoba mengalihkan perhatian para senior. Andi menoleh dengan mata penuh harapan, sementara Doni dan teman-temannya menatap Ramadan dengan tatapan tajam.

“Oh, jadi kamu juga anak baru?” kata Doni, matanya menyipit. “Kenapa kamu ikut campur urusan orang lain?”

Ramadan menatap Doni dengan tenang. “Saya hanya ingin mengingatkan Andi tentang tugas kami. Maaf kalau mengganggu,” jawab Ramadan dengan suara datar, berusaha tidak memancing emosi.

Doni mendekat, menatap Ramadan dari atas ke bawah. “Kamu berani, ya? Lihat saja, nanti,” ancamnya sebelum akhirnya berjalan menjauh dengan teman-temannya. Andi menarik napas lega dan mengucapkan terima kasih kepada Ramadan.

Baca juga:  Teman Dunia Maya (Episode 2: Persahabatan yang Mendalam)

“Terima kasih, Ramadan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kamu tidak datang,” kata Andi dengan suara gemetar.

“Tak apa, Andi. Kalau ada masalah lagi, beritahu saya. Kita harus saling bantu,” balas Ramadan dengan senyum tipis.

Keesokan harinya, Ramadan merasa bahwa sikap senior-senior itu semakin memperburuk suasana. Mereka mulai mengincarnya dengan tatapan tajam dan ejekan setiap kali ia lewat. Ramadan tetap berusaha bersikap tenang dan tidak merespon provokasi mereka. Namun, ia tahu bahwa kesabarannya akan diuji terus-menerus.

Pada suatu hari sepulang sekolah, Ramadan sedang berjalan menuju gerbang ketika Doni dan teman-temannya kembali menghadangnya. Kali ini, mereka tidak hanya mengucapkan ancaman verbal, tetapi mulai mendorong-dorong Ramadan dengan kasar.

“Hei, anak baru. Kamu pikir bisa jadi pahlawan, ya?” kata Doni sambil mendorong bahu Ramadan. “Kamu harus diajari bagaimana cara menghormati senior.”

Ramadan merasa kemarahan mulai membara di dalam dirinya, tetapi ia tetap berusaha mengendalikan diri. “Saya tidak mencari masalah dengan siapa pun. Tolong, jangan ganggu saya,” jawab Ramadan tegas.

Baca juga:  Hingga Detik Berakhir (Episode 4: Perjuangan Bersama)

Namun, Doni tidak mendengarkan. Ia dan teman-temannya terus mendorong dan mengolok-olok Ramadan. Pada saat itu, Ramadan merasa bahwa batas kesabarannya hampir habis. Ia tahu bahwa jika situasi ini berlanjut, ia mungkin tidak akan bisa menahan diri lagi.

Dengan napas yang semakin berat, Ramadan memutuskan untuk mengakhiri konflik dengan cara damai. “Saya tidak mau berkelahi. Kalau kalian butuh sesuatu, kita bisa bicara baik-baik,” katanya, berharap bisa meredakan ketegangan.

Doni tertawa sinis. “Bicara baik-baik? Kamu memang anak baru yang naif,” katanya sebelum mendorong Ramadan sekali lagi.

Pada titik itu, Ramadan sadar bahwa sikap mengalahnya tidak akan membuat mereka berhenti. Ia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk apa pun yang mungkin terjadi selanjutnya. Ia tahu bahwa hari-hari ke depan akan menjadi lebih sulit, tetapi ia juga tahu bahwa ia harus mempertahankan harga dirinya dan menunjukkan bahwa ia tidak akan mudah ditindas.

---

Dukung Liburasik.com untuk Terus Menyajikan Konten yang Informatif dan Inspiratif! Silahkan klik Nih buat jajan

---

You may also like
Sabuk Hitam yang Tersembunyi
Sabuk Hitam yang Tersembunyi (Episode 5: Pertarungan Terakhir)
Sabuk Hitam yang Tersembunyi
Sabuk Hitam yang Tersembunyi (Episode 4: Tekanan Baru)
Sabuk Hitam yang Tersembunyi
Sabuk Hitam yang Tersembunyi (Episode 3: Keputusan Ramadan)
Sabuk Hitam yang Tersembunyi
Sabuk Hitam yang Tersembunyi (Episode 1: Hari Pertama di Sekolah Baru)

Leave a Reply

-Untuk kerjasama promosi, publikasi kegiatan, content placement, media partner, sponsored article, dan penayangan banner, silahkan hubungi e-mail: admin@liburasik.com-